Surat Jawaban Polisi atas Permohonan Izin Pertandingan

Read more.....

Tanpa Suporter, Persija Coba Torehkan Sejarah

Rabu, 22 Desember 2004

Di era kompetisi perserikatan, meski menjadi salah satu yang terbesar, Persija Jakarta selalu kalah jika dibandingkan dengan seteru- seterunya, seperti Persib Bandung, PSMS Medan, Persebaya Surabaya, atau PSM Makassar. Fanatisme suporter tidak pernah dimiliki Persija di era perserikatan.

Seperti ucapan Manajer Persija I Gusti Kompyang Manila, di era perserikatan meski Persija bertanding di Jakarta, penontonnya akan selalu memihak tim lawan. "Kalau Persija bertanding melawan Persib di Jakarta, hampir semua penontonnya membela Persib. Demikian halnya kalau Persija main melawan PSMS atau Persebaya," ujar Manila.

Tidak seperti perserikatan lain yang sangat kental dengan identitas kedaerahan, Jakarta yang menjadi home base Persija terlalu cair untuk mengkristalkan dukungan masyarakat terhadap tim sepak bolanya.

Jakarta hanya menjadi tempat bertemunya banyak pendukung perserikatan. Ada kelompok etnis Sunda yang pasti mendukung
Persib jika bertanding di Senayan, ada komunitas arek Suroboyo yang setia mendukung setiap kali Persebaya tampil.

Namun, era Liga Indonesia yang menggabungkan model kompetisi perserikatan dan galatama membuat semua tim berlomba mengubah diri menjadi kesebelasan modern, lengkap dengan kelompok suporternya. Persija pun kemudian membuat langkah serupa. Suporter telah menjadi kebutuhan satu tim sepak bola modern. Dalam wadah The Jakmania, kelompok penggemar ini menjadi pemain ke-12 bagi Persija.

"Semakin lengkap rasanya jika kami bisa mempersembahkan gelar juara bagi pendukung fanatik kami. Kami sudah bisa membuat mereka bangga karena dulu kami tidak memiliki suporter yang sefanatik sekarang," ujar Manila.

Kebesaran yang sudah sejajar ini tinggal diparipurnakan. Caranya tentu dengan memungkasi kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia, yang sudah dua musim ini menggunakan format satu wilayah, dengan gelar juara. Persija memang paling berpeluang merebut gelar juara musim ini dibandingkan dengan dua tim yang juga punya peluang, yakni Persebaya dan PSM.

Menariknya, dua dari tiga tim tersebut akan saling berhadapan, yakni Persija dengan Persebaya.

Persija hanya tinggal membutuhkan satu angka untuk meraih juara. Hasil seri melawan Persebaya bisa memastikan langkah mereka merebut gelar juara. Berbeda dengan Persebaya atau PSM yang harus memenangi pertandingan terakhirnya untuk bisa keluar sebagai juara.

Meski tinggal membutuhkan hasil seri, akan lebih aman bagi Persija untuk memenangi pertandingan. Karena, jika seri, penentuan juara tetap akan bergantung dari hasil pertandingan PSM melawan PSMS. Jika Persija melawan Persebaya berakhir seri, sementara PSM menang lebih dari enam gol atas PSMS, maka juara musim ini akan diboyong PSM.

"Kami akan menjadi juara sejati jika memastikannya di Surabaya. Rasanya jelas berbeda kalau kami meraih gelar juara dengan mengalahkan Persebaya di kandangnya. Kami bisa benar-benar merasakan nikmatnya menjadi juara," ujar pemain tengah Persija, Elie Aiboy.

SAYANGNYA, saat Persija sebenarnya sudah menyejajarkan diri menjadi tim yang memiliki pendukung fanatik, mereka malah kehilangan dukungan itu dalam partai paling menentukan. Pemain ke-12 itu akan absen karena dilarang hadir menyaksikan langsung kesebelasan kesayangan mereka berjuang di Stadion Tambaksari. Pihak panitia pelaksana (panpel) pertandingan, dengan alasan keamanan, melarang kehadiran The Jakmania.

Larangan seperti ini jelas sangat tidak sportif. Bahkan, Manila sempat menyebutnya sebagai bentuk pelarangan hak asasi manusia. "Menonton sepak bola itu kan hak setiap orang," katanya.

Di luar itu, Persija tentu tidak ingin mengulang kegagalan di era kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1990. Kala itu Persija yang diperkuat Rahmad Dharmawan dan kawan-kawan melenggang ke semifinal. Meski bermain di Jakarta, perjalanan Persija ke final terpaksa kandas setelah kalah 5-7 dari Persebaya lewat drama adu penalti.

Kemenangan atas Persebaya akan menjadi catatan tersendiri bagi Persija. Dalam empat pertemuan sebelumnya yang terjadi di Surabaya, Persija belum pernah sekali pun memetik kemenangan. Hasil cukup bagus yang pernah mereka raih di Surabaya adalah menahan seri Persebaya 0-0 di Turnamen Segi Empat, 29 tahun silam.

Namun, Pelatih Persija Sergei Dubrovin tampaknya tidak terlalu peduli dengan banyak rekor dan sejarah yang bakal ditorehkan dari hasil pertandingan melawan Persebaya. Pelatih berkewarganegaraan Rusia ini menjadi pelatih pertama yang mengantarkan dua tim berbeda menjuarai Liga Indonesia jika Persija mengalahkan Persebaya. Sebelumnya dia sukses mengantar Petrokimia Putra Gresik menjuarai Liga Indonesia. (KHAERUDIN)

Read more.....

Boikot, Pernyataan Politik Suporter Sepakbola

Sudah dua pertandingan tim nasional sepakbola Indonesia di Sea Games 2011 berlalu dengan pemandangan kursi-kursi kosong melompong di tribun penonton. Entah berapa banyak penonton yang datang saat partai kontra Kamboja dan Singapura, tapi mata telanjang pun bisa melihat bahwa Gelora Bung Karno tak sampai terisi setengah dari kapasitas maksimalnya.
Jakmania, suporter Persija Jakarta yang biasanya setia menghadiri pertandingan tim nasional hanya diwakili oleh segelintir orang yang jelas kalah jauh dibanding kekuatan mereka sesungguhnya. Jakmania sore itu hanya diwakili oleh bentangan spanduk “Save Persija” yang terpampang di belakang gawang utara.
Save Persija, ya, itulah alasan di balik keengganan Jakmania untuk hadir mendukung tim nasional Indonesia di GBK. Aksi boikot ini dilakukan menyusul dualisme manajemen Persija dan keputusan PSSI untuk mengesahkan PT Persija Jakarta dibanding PT Persija Jaya Jakarta yang menurut mereka lebih layak.
Ketua Panitia Penyelenggara Sea Games 2011 (Inasoc), Rahmat Gobel telah bertemu dengan pihak Jakmania dan meminta mereka untuk menghentikan boikot karena minimnya dukungan penonton sedikit banyak berpengaruh kepada performa tim. Nyatanya pada pertandingan melawan Singapura kemarin (11/11), Jakmania masih melakukan boikot.
Banyak hal yang bisa diperdebatkan seputar aksi boikot Jakmania ini seperti apakah layak kekesalan kepada PSSI dilampiaskan kepada tim nasional atau apakah fanatisme kepada klub berada di atas fanatisme terhadap tim nasional, tapi hal yang menarik untuk diamati adalah bagaimana Jakmania, sebagai elemen suporter sepakbola, melakukan pernyataan sikap politik terhadap PSSI melalui boikot. Sebagai metode demonstrasi politik dalam sepakbola, boikot bukanlah barang baru yang dilakukan suporter tetapi salah satu yang paling efektif. Dengan melakukan aksi boikot, maka sepakbola kehilangan unsur penting yang seharusnya tak boleh hilang dalam pertandingan, yaitu penonton. Sebagai sebuah bentuk protes, maka boikot akan memukul telak pihak-pihak yang menghelat pertandingan, seperti klub ataupun federasi sepakbola.
Musim lalu ribuan suporter Borussia Dortmund melakukan aksi boikot dengan tidak menghadiri partai derbi melawan Schalke 04 akibat tingginya harga tiket. Begitu juga yang dilakukan oleh suporter klub Divisi 3 Inggris Huddersfield Town akibat mahalnya tiket saat akan menghadapi Sheffield United. S Suporter Manchester United menempuh cara lain untuk memprotes kepemilikan keluarga Glazer yang mereka rasa menggerogoti keuangan klub. Selain memakai warna hijau-kuning (warna klub Newton Heath, cikal bakal Manchester United), mereka juga memboikot suvenir asli yang dijual di toko resmi klub dan diharapkan aksi tersebut dapat berpengaruh pada keuangan klub.
Berbagai aksi di atas hanya contoh bagaimana suporter, sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah tim sepakbola, berusaha membuat dirinya didengar. Bila Trias Politica sepakbola dipetakan menjadi FA (federasi)-Klub-Pemain, maka suporter sebagai entitas yang berada di luar piramida kekuasaan sesungguhnya adalah pihak yang rentan terhadap kesewenangan. Maka boikot sebagai sebuah bentuk protes adalah alat yang efektif untuk menyeimbangkan kekuasaan.
Esensi dari aksi boikot sebenarnya sederhana. Apa yang akan federasi atau klub lakukan jika penonton sebagai target pasar tidak senang dengan apa yang disuguhkan? Apakah mereka akan mengganti penonton tersebut dengan penonton lainnya? Bagaimana jika mereka tak tergantikan? Seberapa kuat federasi/klub akan terpukul jika suporter ngambek?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat saya angkat topi pada suporter klub mana pun yang melakukan aksi untuk memaksa aspirasi mereka didengar oleh pihak yang lebih berkuasa. Maka Anda bisa memperdebatkan apakah Jakmania layak untuk memboikot tim nasional sebagai protes terhadap PSSI, tapi keberanian mereka untuk melakukan itu sesungguhnya adalah upaya amplifikasi aspirasi mereka yang tak didengar.

Sumber: beritasatu.com / Pangeran Siahaan

Read more.....

Ketua Umum Persija Jakarta Tolak Mediasi

Ferry menyatakan dirinya tidak pernah merasa bersengketa dengan pihak lain.

Ketua umum Persija Jakarta Ferry Paulus menolak melakukan mediasi kembali dengan kubu Bambang Sutjipto dan Hadi Basalamah untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan klub Macan Kemayoran tersebut.

Menurut Ferry, pihaknya merasa tidak pernah ada masalah dalam mengelola Persija. Karena itu, dia mengaku heran jika Persija dianggap bermasalah mengenai pengelolaan klub.


Sebelumnya, mediasi pernah dilakukan di sekretariat PSSI. Namun dalam mediasi lanjutan, Ferry beserta jajaran PT Persija Jaya Jakarta hadir. Sedangkan kubu Bambang dan Hadi yang mewakilu PT Persija Jaya tidak muncul.

“Saya sih tidak pernah merasa ada sengketa. Yang memunculkan sengketa itu, justru pihak lain. Mengapa harus saya yang menggugat PT lain itu. Karena itu, kami tidak mau melakukan mediasi kembali,” tegas Ferry.

“Persija sudah punya tim, sudah menyewa stadion, dan gaji pemain yang tertunggak selama tiga bulan sudah kami bayar. Jadi, sebenarnya Persija sudah tidak bermasalah.”

Read more.....

Anggota Exco: PSSI Harus Bantu Klub Supaya Lolos Verifikasi

Anggota Exco PSSI La Nyalla Mattalitti menegaskan PSSI harus ikut mencari solusi untuk klub yang belum mampu memenuhi beberapa persyaratan verifikasi.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti berharap jajaran pengurus PSSI ikut membantu 18 klub Superliga Indonesia memenuhi syarat-syarat verifikasi.

La Nyalla mengatakan PSSI seharusnya ikut mencari jalan keluar atau solusi dari kurangnya beberapa persyaratan verifikasi klub, bukan malah menakut-nakuti sehingga klub-klub merasa terbebani.

"Klub-klub jangan terlalu diberi beban sehingga malah tidak lolos verifikasi. PSSI jangan mengecilkan keberadaan klub, apalagi klub yang sudah susah payah lolos Superliga musim lalu," katanya.


Read more.....
 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Powered by    Login to Blogger