Lupakan Ernest, Persija Bidik Lima Striker

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah gagal mendapatkan mantan penyerang Persipura Jayapura, Ernest Jeremiah, Persija Jakarta terus bekerja keras mencari penggantinya. Asisten Manajer Persija, Ferry Indrasyarief, mengatakan, kini "Macan Kemayoran" telah mengantongi lima nama penyerang asing.

"Ada beberapa calon yang namanya belum bisa kami sebutkan. Sudah ada lima calon dari beberapa agen di antaranya pemain Kamerun dan Nigeria," ungkapnya kepada wartawan di Ragunan, Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Rencana rekrutmen Ernest gagal karena pemain asal Papua itu masih menjalani sangsi tiga tahun bermain di kompetisi Indonesia. Hukuman itu dijatuhkan karena Ernest menanduk wasit Purwanto yang memimpin duel antara Persipura versus Sriwijaya FC di final Copa Dji Sam Soe 2008-2009.

Menurut Ferry, Persija memang membutuhkan tambahan soorang penyerang berpostur tinggi dan naluri mencetak gol tinggi. Pasalnya, saat ini, Persija hanya memiliki tiga penyerang saja. "Jika kita bermain dengan pola 4-4-2, kami memplot Musyafry di sektor sayap. Praktis, kami hanya mengandalkan Bambang (Pamungkas) dan Aliyudin di lini depan. Lagi pula, idealnya setiap klub memiliki empat atau lima penyerang sedangkan kami hanya memiliki tiga penyerang," jelasnya.

Mengenai target musim ini, Ferry optimistis timnya bisa menjadi juara Liga Super Indonesia (LSI) musim ini. "Kami memang menargetkan juara pada musim ini. Kami sangat optimistis," pungkasnya.

Hingga putaran pertama LSI, Persija bercokol di peringkat keempat atau selisih sembilan angka dari Arema Malang di puncak klasemen. Gelar terakhir yang diraih tim ibu kota ini adalah juara Liga Indonesia 2001.


Read more.....

Ternyata, Nomor Unik Firman Merupakan Ide Istri

JAKARTA, Kompas.com - Bukan rahasia lagi jika nomor punggung kebanggaan Firman Utina adalah 15, yang merupakan tanggal kelahirannya. Karena itu, gelandang timnas Indonesia tersebut tak pernah lepas dari nomor "keramatnya" tersebut. Dan, di Persija Jakarta Firman mengenakan nomor punggung unik, yaitu 8+7.

Jika dijumlahkan, nomor unik tersebut akan menghasilkan angka 15. Dengan demikian, di tim "Macan Kemayoran" Firman tetap bisa tampil dengan nomor kebanggaannya, meskipun nomor punggung 15 sudah melekat pada striker mungil Aliyuddin.

Ternyata, ide menggunakan nomor unik tersebut datang dari istrinya, Marita Yustika. Ketika Firman agak kebingungan karena bakal kehilangan nomor "keramat"nya itu setelah hengkang dari Pelita Jaya Karawang, Marita justru memberikan saran yang unik dan langsung ditanggapinya dengan penuh antusias.

"Ide ini datang dari istri, dan saya langsung memakainya," ungkap Firman yang ditemui Kompas.com di GOR Ragunan, Jumat (5/2/10), saat menjalani latihan perdana dengan Persija.

Mantan pemain Arema Malang ini mengaku sangat bangga mengenakan kostum Persija, apalagi tetap bisa memakai nomor "15". Firman juga berjanji untuk membawa tim kebanggaan ibukota ini menjadi juara Indonesia Super Liga (ISL) 2009/10.

"Persija adalah klub impianku sejak masih kecil. Karena itu, ketika ada tawaran untuk bergabung, saya menyambutkan dengan sangat bahagia karena akhirnya bisa memperkuat tim idola," tambah gelandang enerjik ini.

Sebagai pemain baru, Firman mengaku tak kesulitan untuk beradaptasi. Dia sangat menikmati suasana di tim besutan pelatih Benny Dollo ini, termasuk sambutan "The Jack"--julukan suporter Persija--yang sangat senang dengan kehadirannya.

Firman digaet dari Pelita Jaya setelah Persija membelinya dengan harga Rp 300 juta. Dia diharapkan sudah bisa memperkuat Persija saat melakoni laga tandang ke markas Bontang FC pada 10 Februari mendatang, yang merupakan pertandingan pertama putaran kedua ISL.

Persija mendapat kesempatan untuk memiliki Firman, karena pemain ini lebih banyak "menganggur" di Pelita Jaya, seperti yang diakui Direktur PT Nirwana Pelita Jaya, badan pengelola Pelita Jaya, Rahim Sukasah. Menurutnya, Firman sering dibangkucadangkan oleh pelatih Fandi Ahmad, sehingga Pelita Jaya merelakan salah satu pemain bintangnya ini hengkang.


Read more.....

Musyafry: Firman Solusi "Macan Kemayoran"

JAKARTA, KOMPAS.com — Bergabungnya Firman Utina disambut antusias oleh seluruh para penggawa Persija Jakarta, tak terkecuali oleh Talaohu Abdul Musyafry. Penyerang "Macan Kemayoran" itu menilai Firman sebagai suatu solusi di lini tengah timnya.

Jelang putaran kedua, Persija berhasil mendapatkan Firman dari Pelita Jaya. Klub ibu kota itu harus mengucurkan dana sebesar Rp 300 juta untuk mendapatkan gelandang yang memiliki nomor punggung unik 18+7 itu. Rencananya, Firman akan menandai debutnya saat "Macan Kemayoran" bertandang ke Bontang FC dalam lanjutan Liga Super Indonesia, 10 Februari 2010.

Musyafry menilai klub telah melakukan keputusan tepat memboyong Firman. Menurutnya, kedatangan Firman akan membuat lini tengah semakin solid. "Senang bisa bergabung dengan Firman. Kedatangannya membawa banyak sisi positif. Kami memang kekurangan di lini tengah," ungkapnya ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (5/2/2010).

Musyafry menilai klub telah melakukan keputusan tepat memboyong Firman. Menurutnya, kedatangan Firman akan membuat lini tengah semakin solid. "Senang bisa bergabung dengan Firman. Kedatangannya membawa banyak sisi positif. Kami memang kekurangan di lini tengah," ungkapnya ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (5/2/2010).

Mantan pemain Persiba Balikpapan itu juga optimistis bahwa "Macan Kemayoran" akan menjadi juara LSI musim ini. "Tujuan kami memang menjadi juara. Kami optimistis seratus persen. Kalau perlu 200 persen," pungkasnya.

Persija memang sudah lama tak merasakan nikmatnya gelar. Terakhir kali mereka berhasil menjadi juara adalah tahun 2001. Jelang putaran kedua, Persija berada di peringkat keempat dengan mengoleksi 27 poin. Mereka terpaut sembilan angka dari pimpinan klasemen, Arema Malang.


Read more.....

Resmi ke Persija, Firman Pakai Nomor Unik

JAKARTA, KOMPAS.com — Gelandang timnas Indonesia, Firman Utina, resmi bergabung dengan Persija Jakarta. Ia akan mengenakan kaus bernomor punggung unik 8+7.

Selama ini mantan pemain Pelita Jaya tersebut selalu mengenakan jersey dengan nomor punggung 15. Di Persija, nomor itu sudah dipakai oleh striker Aliyudin sehingga Firman pun memilih 8+7 atau sama dengan 15.

"Sepanjang bermain bola, saya selalu pakai nomor 15 yang juga merupakan tanggal kelahiran saya," kata pemain kelahiran 15 Desember 1981 itu seperti dikutip Kompas.

Firman rencananya akan mulai berlatih bersama Bambang Pamungkas dkk mulai Jumat (5/2/2010). Ia diharapkan sudah bisa membela "Macan Kemayoran" pada laga tandang pertama putaran kedua Liga Super melawan Bontang FC pada 10 Januari 2010.

"Firman sudah resmi bergabung. Dia akan segera ikut latihan supaya bisa diikutsertakan ke Bontang untuk pertandingan tandang," ujar Manajer Persija Haryanto Bajuri di Jakarta, Rabu (3/2/2010).

Direktur PT Nirwana Pelita Jaya, badan pengelola Pelita Jaya, Rahim Sukasah, mengaku bahwa alasan Pelita Jaya melepas Firman Utina adalah karena ia sering dibangkucadangkan oleh pelatih. "Dia kan pemain timnas, sayang kalau hanya jadi cadangan. Lebih baik dilepas ke tim yang lebih membutuhkan," kata Rahim.

Ketika dihubungi, Firman mengaku senang dapat bergabung dengan tim "Macan Kemayoran" yang membutuhkan tenaganya pada putaran kedua.

Dengan bergabungnya Firman, Haryanto berharap Persija dapat bersaing memperebutkan tampuk juara LSI pada musim ini. Manajemen juga masih akan memburu satu pemain asing untuk posisi penyerang. (ILO/HEI)


Read more.....

Antara “Priuk Pelebur”, Kontrol Sosial dan The Jak Mania

Artikel yang panjang ini mungkin tidak akan dimuat. Bahkam mungkin juga takkan bisa sampai ke JO ketika dikirim. Tapi lihat, dia tetap kutulis, untukmu yang kucintai-Ya, untuk kau para The Jak Mania, yang sedang berbahagia dalam suasana ISL. Sebelumnya aku tak tahu akan menulis apa dan memberi judul apa artikel ini, namun sejarah telah mengantarkanku ke alam yang lain dari Jakarta, Persija dan The Jak Mania-nya. Dan Tuhan pun memberikan anugerah inspirasi kepadaku tentang sisi lain The Jak Mania. Maka tertulislah Artikel ini berdasarkan apa yang kulihat, kurasakan dan pada akhirnya kutuangkan.

Antara “Priuk Pelebur”, Kontrol Sosial dan The Jak Mania

“Melting Pot” atau Priuk Pelebur adalah sebuah konsep yang dahulu oleh Penjajah Belanda dimaksudkan agar Ibukota Hindia Belanda pasca VOC di Batavia menjadi sebuah Priuk Pelebur dari beragam suku, ras, agama dan budaya, tapi sayangnya oleh para pembesar Hindia Belanda konsep tersebut dilakukan secara menyimpang dengan memberi sekat-sekat wilayah, terutama di Batavia. Hal ini disebabkan adanya strata hukum dalam kehidupan di Batavia secara khusus dan di wilayah lain di jajahan Hindia Belanda pada umumnya, strata tersebut adalah: (1.Belanda, 2. Timur Asing, 3. Pribumi), oleh karena itu sekarang kita sering mendengar ada wilayah yang bernama Kampung Jawa, Kampung Ambon, Pecinaan, dll. Pasca kemerdekaan Indonesia atau di era Orde Lama (1950, pasca KMB) konsep “Melting Pot” mulai disempurnakan yaitu menghilangkan sekat-sekat tersebut dengan cara mencabut strata hukum dalam kehidupan bernegara yang lebih luas terutama Jakarta yang menjadi Ibukota setelah dipindah dari DIY.

Masuk ke dalam era Orde Baru sekat-sekat tersebut timbul kembali pasca 1965, ini membuat warga Jakarta khusunya yang berasal dari ras Asia Timur khususnya Tiongkok teralienasi di kotanya sendiri, Jakarta. Tak ayal banyak warga Jakarta yang terkotak-kotak selain karena faktor khidupan geselscaf-nya juga karena sekat-sekat yang dibangun di Era Orde Lama bahkan terkadang berbau agama dan suku. Pasca Runtuhnya Orde baru (1998) sekat-sekat tersebut dihapuskan oleh Presiden Indonesia ke-4, K.H. Abdurahman Wahid. Salah satu contohnya adalah memberikan warga Tiongkok yang sudah menjadi WNI kepada hak-hak mereka kembali dalam berkehidupan sosial, berbudaya, beragama dan bernegara yang dirampas oleh Orde Baru serta menghapuskan diskriminasi di hadapan hukum. Melting Pot-pun hidup kembali namun masih ada yang salah ketika Warga D.K.I Jakarta kembali kepada kehidupan geselscaf-nya yaitu walaupun sudah melebur tetapi tidak ada saling kepedulian antara sesama, hal ini jelas bisa membawa kepada keadaan sebelumnya.

Untunglah di antara serpihan-serpihan keterasingan warga Jakarta terhadap lingkungan sosialnya, ternyata masih ada organisasi yang mengingatkan warga Jakarta agar bisa melebur kembali munuju kebersamaan, apa nama organisasi itu?, orgnaisasi itu bernama The Jak Mania. Walaupun berbasis kepada kecintaan terhadap klub Persija Jakarta namun pada setiap pertandingan, The Jak Mania selalu mengingatkan warga Ibukota negara pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk belajar melebur seperti keluarga meskipun dalam lingkup yang kecil yaitu sepakbola. Karena itulah pada setiap pertandingan sering kita dengar choirs yang disuarakan oleh para The Jak Mania: “Tinggalkan Ras. Tinggalkan Suku. Satu tekad dukung Persija…dst”. Walupun choirs itu sederhana namun mempunyai arti yang dalam kepada warga Jakarta yang Pluralis yaitu jangan sekalipun memandang ras, suku dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara meskipun dalam lingkup yang cukup sederhana, sepak bola. Bahkan dengan jejaringnya The Jak Mania berhasil menyatukan masyarakat lainnya yang berbeda latar belakang dan daerah ke dalam sebuah oragniasasi yang tidak peduli terhadap perbedaan suku, ras, agama, bahkan bangsa. Di sinilah seolah-olah ruh dewa yang bernama melting pot seolah-olah turun ke bumi Indonesia tercinta.

Sebagai sebuah organisasi yang berbasis kepada kecintaan terhadap sepakbola Ibukota, The Jak mania juga sering menyalurkan aspirasi Warga Jakarta yang kerap terbentur dengan penyair-penyair salon yang mengatasnamakan warga Jakarta, salah satu contohnya adalah ketika warisan cagar budaya Lapangan Menteng dirombak menjadi Taman Menteng (yang sekarang bahkan ditambahi patung anak kecil). Ketika itu para sejarahwan terang-terangan protes terhadap Gubernur yang berkuasa, sayangnya usah tersebut “ditangkis” oleh sang Gubernur.

Warga Jakarta yang geram ketika itu hanya melihat miris namun tetap protes (meskipun dalam obrolan warung kopi), saat itulah The Jak Mania tanpa embel-embel partai dan kepentingan penguasa berani berkoar memprotes tindakan sang Gubernur yang sebenarnya juga dicintainya itu di Lapangan Menteng. Saat itu jugalah banyak LSM, yang mulai berani ikut memprotes tindakan sang Gubernur D.K.I Jakarta terhadap tindakan merombak Lapangan Menteng. Di sinilah tampak walupun The Jak Mania berbasis kecintaan teradap Persija ternyata juga bisa melakukan kontrol sosial terhadap perkembangan Ibukota Jakarta bahkan bisa memotivasi civil society lainnya untuk melakukan kontrol sosial walaupun ketika itu yang dikontrol sosial tersebut adalah sosok yang di cintai oleh The Jak Mania, Sutiyoso. Sepengetahuan saya inilah kontrol sosial pertama di Indonesia yang pernah dilakukan oleh supporter sepakbola terhadap Warisan Cagar Budaya dan itu dilakukan oleh The Jak Mania.
Pada akhirnya antara “priuk pelebur”, Kontrol sosial dan The Jak Mania terjalin hubungan yang sinergis dan mempunyai satu tujuan yaitu menghilangakan perbedaan dari berbagai latar belakang dan melakukan kontrol sosial untuk kehidupan berwarga, berbangsa dan bernegara yang lebih baik seperti anak sungai yang datang dari segala macam penjuru namun tetap mempunyai satu tujuan yaitu ke laut.


Sumbangan Seorang The Jak Mania untuk Jakarta, Persija dan Indonesia.


Artikel ditulis Oleh: Nico Khaizan (A.K.A Robot Orange)

14-01-2010

Sumber Acuan:
1. Lance castles. Profil etnik Jakarta. 2007. Masup Jakarta: Jakarta
2. Marwati Djoened, dkk. Sejarah Nasional Indonesia III. 1993. Balai Pustaka: Jakarta
3. Hetifah Sj. Sumarwoto. Inovasi, Partispasi dan Good Governance. 2009. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
Sumber lain : Kompas, Poskota

Nb: kalo ada yang salah maafin ye…

*Sumber: http://www.jakmania.org*

Read more.....
 
Copyright  © 2007 | Design by uniQue             Powered by    Login to Blogger