Bambang Pamungkas (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 10 Juni 1980) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini dia bermain untuk Persija Jakarta di Divisi Utama Liga Indonesia dan pernah mewakili negara dalam timnas sepak bola Indonesia. Dia biasa berposisi sebagai penyerang.
Meskipun tidak terlalu tinggi (171 cm), Bambang mempunyai lompatan yang tinggi dan tandukan yang akurat. Salah satu pemain yang dikaguminya adalah rekannya dalam tim nasional, Kurniawan Dwi Yulianto.
Saat masih bermain dalam tim remaja Jawa Tengah, ia pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Haornas, sebuah kejuaraan tingkat remaja. Bambang juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak untuk skuad Indonesia di Piala Asia U-19 Grup V, dengan 7 gol.
Penampilan pertama Bambang bersama timnas senior adalah pada 2 Juli 1999 dalam pertandingan persahabatan melawan Lituania. Bambang, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berhasil menciptakan sebuah gol dalam pertandingan yang berakhir seri 2-2.
Karir profesional
Bambang menjaringkan 2 gol pada musim pertamanya di Liga Indonesia walaupun tim yang diwakilinya Persija Jakarta gagal ke babak akhir. Saat musim tersebut berakhir, Bambang bergabung dengan sebuah tim divisi 3 Belanda, EHC Norad. Namun masalah keluarga dan kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan cuaca sejuk Eropa menyebabkan beberapa bulan setelah itu, EHC Norad meminjamkan Bambang kembali kepada Persija sebelum kedua-dua pihak mengakhiri kontrak atas persetujuan bersama.
Setahun kemudian, Bambang menjadi top scorer dr belakang dengan 8 gol sekaligus membantu Indonesia menjadi juara kedua Piala Tiger 2002.
Hingga penampilan terakhirnya untuk Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 2006 melawan Sri Lanka pada September 2004, Bambang telah menjaringkan 18 gol dalam 35 penampilan. Namun masalah kecederaan serta prestasi yang menurun (kali terakhir Bambang menjaringkan gol untuk Indonesia adalah pada 12 Februari 2004) menyebabkannya tersisih dari skuad Piala Tiger Indonesia 2004. Saat rekan-rekannya berjuang di Piala Tiger, Bambang menandatangani kontrak dengan Selangor FC. Hingga Juli 2005, ia adalah pencetak gol terbanyak untuk timnya dengan 22 gol.
Musim 2007 ia kembali memperkuat Persija Jakarta di Liga Indonesia.
Pada 10 Juli 2007, ketika pertandingan Indonesia-Bahrain, ia mencetak gol, memastikan Indonesia menang 2-1.
Sumber: Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bambang Pamungkas
Diposting oleh di 23.18 0 komentar
Label: Profil Pemain
Pemain Baru Datang, Hari Salisburi Bergabung
Setelah susunan tim dibentuk, hari ini para pemain yang terpilih ke dalam skuad Persija 2009-2010 telah mulai berkumpul di mess Persija. Mereka akan langsung mengikuti latihan perdana Senin sore (31/08) ini di lapangan Ragunan.
Beberapa punggawa baru yang tampak telah hadir adalah Salim Alaydrus (eks Persib) dan Erick Setiawan. Sebelumnya Agus Indra dan Aris Indarto juga telah tiba lebih dahulu.
Kabar lain yang juga tak kalah menarik adalah bergabungnya Hari Salisburi untuk ikut memperkuat lini gelandang Persija musim depan. Gelandang eks Persib ini tampaknya dianggap sesuai dengan karakter pemain yang diinginkan oleh Bendol sebagai direktur teknik.
Melihat komposisi pemain yang ada, tampaknya Persija ingin membangun tim dengan karakter ngotot dan pekerja keras. Kita tunggu siapa lagi yang akan digaet Macan Kemayoran untuk melengkapi skuadnya.
Semoga Tim Persija tahun ini dapat menuntaskan penantian panjang The JakMania yang sudah lama paceklik gelar juara.
Persija...di dadaku...
Persija...kebanggaanku..
Kuyakin...hari ini...
Pasti menang....!
Diposting oleh di 16.38 0 komentar
Label: Persija
Persija Bergerak Cepat
Tim Macan Kemayoran mulai bergerak cepat jelang kompetisi ISL 2009/2010 yang akan digelar bulan Oktober mendatang. Setelah ditinggalkan investor dan sejumlah konflik yang melanda internal klub, tidak membuat manajemen tim diam seribu bahasa.
Selepas konflik dan investor yang gagal, tim kebanggaan ibukota ini langsung diambil alih oleh Pemprov DKI dengan tetap menunjuk Haryanto Badjoeri sebagai manajer tim. Dibawah komando orang nomor satu di Satpol PP ini, Persija mulai bergerak cepat. Sejumlah pemain musim lalu dipertahankan dan beberapa pemain anyar juga telah direkrut, walau dengan cara terselubung agar tidak diketahui media sebelum resmi direkrut oleh tim.
Pelatih yang sedianya akan didatangkan dari Portugal, gagal. Kini Persija mencoba untuk mencari pelatih baru yang akan menangani Bepe cs musim depan. Sejumlah nama disebut-sebut akan mengisi kursi pelatih Macan Kemayoran, santer terdengar Beny Dollo pelatih Timnas saat ini akan menduduki kursi tersebut, namun pelatih bertubuh tambun ini terganjal status kontraknya yang akan berakhir pada tahun 2010. Tapi, dengan pertimbangan lain Bendol begitu akrab disapa tetap menangani tim ibukota ini dengan status sebagai Direktur Tekhnik.
Setelah tim terbentuk, Senin (31/8) esok tim sudah akan memulai jadwal latihan perdananya sore hari di lapangan Ragunan. Jadwal latihan telah ditetapkan dan sejumlah rangkaian ujicoba juga telah disiapkan, yang paling dekat nanti tanggal 9 September nanti.*(aR)
Berikut skuad tim Macan Kemayoran untuk musim depan 2009/2010.
Direktur Teknik : Benny Dollo
Asisten Pelatih : Tiastono Taufik
Pelatih Kiper : Haryono
Kiper : M. Yasir (Arema)
Belakang : Ismed Sofyan, Erik Setiawan (Arema), Abanda Herman, Leonard Tupamahu, Aris Indarto, Leo Saputra, Elvis Nelson (PON DKI)
Gelandang : Herlu Neri (Persipura), Richard Caserez (Club Sol de America, Paraguay), M.Ilham, Salim Alaydrus (Persib), Agus Indra Kurniawan, Ramdani Lestaluhu, T.A Musafri (Persiba)
Depan : Bambang Pamungkas, Aliyudin
Diposting oleh di 23.57 1 komentar
Label: Kliping, Pemain Persija, Persija
Inilah Direktur PT.Persija Jaya yang baru
Nama Edy Joenardi memang masih sangat asing bagi the Jakers. Namun bukan berarti beliau adalah hanya orang "biasa" saja. Beliau selama ini sudah amat dikenal di kalangan pemain saham dan juga dikenal sebagai politisi dari Golkar.
Nah untuk sedikit lebih dekat mengenal sosok seorang Edy Joenardi, Direktur Utama PT.Persija Jaya, saya copas sebuah artikel dari www.swa.co.id
Semoga bermanfaat....
======================================================
Edy Joenardi: Saham Bumi Menggelembungkan Asetnya Hingga Triliunan
Oleh : Eva Martha Rahayu dan Herning Banirestu
Dengan modal tabungan Rp 62 juta, Edy memberanikan diri bermain saham lima tahun lalu. Siapa sangka, kini nilai portofolio sahamnya membengkak hingga triliunan rupiah. Bagaimana strateginya?
Nama Edy Joenardi tidak hanya familier di kalangan pengusaha, tapi juga di lingkungan pelaku pasar modal. Sejak 2003 ia menginjakkan kaki di lantai bursa. Ia bermain saham melalui sejumlah broker, seperti Kim Eng Securities dan Nikko Securities. Kode booking-nya, i-Jun (baca: ai-jun), sudah sangat dihafal para pialang saham. Aksinya menjual saham Bumi Resources (Bumi) tahun 2008 dengan nilai yang menggemparkan membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Maklum, aksinya itu memberi kontribusi 90% dari total transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ketika awal krisis global mendera.
Capital gain yang diraih Edy dari penjualan saham Bumi terbilang dahsyat. Awalnya, ia membeli saham Bumi dengan harga Rp 400-an/lembar. Pada saat harganya menyentuh level Rp 6.000/lembar, ia pun menjualnya. Waktu itu ia membeli 2 juta lot atau sekitar 1 miliar saham. Maka, capital gain yang diraihnya pun mencapai Rp 5,6 triliun. Ketika saham Bumi jatuh, Edy membelinya lagi di harga Rp 700/lembar sebanyak 1 miliar saham juga. Lalu, menjualnya kembali di harga Rp 1.210/saham. “Kejadian seperti ini bisa berulang-ulang,” ia menandaskan.
Itu baru dari saham Bumi. Hal serupa juga ia dapat dari portofolio saham-saham lain, baik di bursa saham dalam negeri maupun luar negeri. Namun, “Dua tahun belakangan saya lebih banyak bermain di bursa saham negeri. Komposisinya, ia menambahkan, 60% dananya diinvestasikan di bursa saham dalam negeri dan 40% di luar negeri. “Saya juga bermain saham via Internet dengan bursa di luar negeri pada tengah malam,” pehobi basket itu mengungkapkan.
Bagaimana ia bisa membaca situasi pasar bahwa inilah saat yang pas melepas Bumi, padahal waktu itu banyak investor yang justru bersikap menahan diri dengan menyimpan (keep) saham migas itu?
Edy mengaku, sebelum pasar modal Amerika Serikat babak belur tahun lalu, ia berhasil menyelamatkan investasi sahamnya di BEI dari imbas krisis global itu. “Sebelum pasar jatuh, saya mendapat berita tentang market AS dari teman-teman pasar modal di AS, yang waktu itu belum berani diungkapkan oleh Bush atau pemerintah negara tersebut. Pada saat yang bersamaan, harga saham Bumi justru rebound di sini hingga Rp 8 ribuan harganya. Lalu saya jual semua,” tutur pria kelahiran Majalengka, 1969, itu dengan lega. Strategi Edy sungguh jitu. Betul saja, sebulan kemudian krisis di AS itu berdampak bagi Indonesia, khususnya BEI, sampai akhirnya saham Bumi di-suspend.
Selain mengandalkan luasnya jejaring hingga ke bursa luar negeri, Edy mengaku tidak rakus dalam bermain saham manakala trennya rebound. Artinya, ketika harga saham grafiknya menunjukkan kenaikan, ia tidak terlalu serakah menunggu capital gain lebih besar lagi. Yang penting, harga sudah naik di atas harga pembelian, maka cepat-cepatlah dilepas. Daripada menunggu persentase kenaikan lebih gede, tapi yang terjadi sebaliknya, harga-harga saham justru terjungkal.
Tidak sekadar mengambil untung sesaat (profit taking) adalah kiat lain Edy bermain saham. Menurut lulusan Magister Manajemen Prasetiya Mulya ini, investasi saham sebaiknya untuk jangka panjang. Ini dibuktikan dengan imbal hasil yang diraupnya dari pembelian saham Bumi itu.
Jurus lain, ketika harga saham rendah, itulah waktu yang tepat untuk masuk atau membeli. Tip ini dibuktikan Edy dengan keberaniannya membeli kembali saham Bumi saat ini, padahal banyak investor yang sekarang justru menjauhi atau menjual saham Grup Bakrie itu. “Saya tertarik mengambil saham Bumi. Beberapa pemegang saham Bumi yang cukup besar dari luar sudah kontak saya. Mereka menunggu langkah saya selanjutnya untuk menyelesaikan masalah Bumi,” ujar aktivis Partai Golkar itu. Menurutnya, terkait dengan transaksi saham Bumi ini, ia tidak melulu berorientasi bisnis. “Saya dididik lingkungan untuk menghargai senior. Kalau saya cuma berpikir profit, saya bisa bergerak dari tahun lalu,” kata pendiri Edy Joenardi Foundation itu. Adapun besarnya saham Bumi yang dibelinya kini sejumlah 9,8% dari total saham beredar dengan harga Rp 425/lembar. Bagi Edy, saham Bumi prospeknya menjanjikan. Sebab, secara internal Bumi tidak ada masalah, baik itu di Arutmin maupun Kaltim Prima Coal, dan produksinya luar biasa.
Bila kita tarik waktu ke belakang, jurus bermain saham Edy dulu tidak secanggih sekarang. Meski demikian, baru empat bulan setelah masuk ke bursa, ia telah memetik untung — yang ia gunakan untuk jalan-jalan ke Singapura. “Sebagai pemula, lima tahun lalu saya belum mengenal apa itu profit taking dan semacamnya,” ujar pria yang pernah menjadi kuli di pabrik itu. Namun, dengan ketelatenan dan kecerdasannya dalam menyerap ilmu, ia pun lebih piawai bertransaksi. Apalagi, belakangan pergaulannya merambah ke pialang-pialang asing di Indonesia dan mancanegara.
“Ya, learning by doing. Saya punya keinginan kuat untuk hidup lebih baik. Semua dipelajari sambil berjalan, tidak harus saya ketahui lebih dulu,” ungkapnya. Namun, ia pun mengakui, ada kekuatan lain di luar dirinya sehingga bisa menjadi sosok yang kaya raya seperti sekarang. “Mungkin Allah sudah menggariskannya,” Edy menegaskan.
Tahun ini Edy mengalokasikan dana minimal Rp 6 triliun untuk investasi di saham, obligasi dan sektor riil. Mengapa? Ia berpendapat, keterkaitan harga saham dan sektor riil sangat kuat. Selain itu, secara bertahap ia bakal menambah porsi kepemilikan saham Bumi. “Contohnya, hari ini (10 Maret) saya membeli 600 ribu lembar saham Bumi di harga Rp 472/lembar via Internet dengan broker BNI Securitas,” katanya seraya menambahkan, beberapa sahamnya dibeli atas nama adik dan kakaknya. Sebenarnya selain saham Bumi, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini juga memasukkan saham lain ke dalam keranjang investasinya, antara lain, saham , Bukit Asam dan Antam.
Dalam bermain saham, Edy tidak melulu untung. Sama halnya dengan investor lain, ia pun tak luput dari buntung. “Saya pernah rugi Rp 400 miliar gara-gara kejeblos bermain saham,” ujarnya mengenang pilu. Meski sempat syok, ia segera ingat Allah swt. bahwa semua itu cobaan dan ia pun segera intropeksi. “Mungkin waktu itu saya pamrih atau kurang amal,” katanya menduga. Itulah sebabnya, sejak itu ia selalu menyisihkan sekitar 25% keuntungannya untuk kegiatan sosial. Contohnya, baru-baru ini menyalurkan bantuan sosial Rp 220 miliar dari return main saham ke Edy Joenardi Foundation. Juga, membangun masjid, menyantuni anak yatim, membangun jalan kampung, memberikan 600 traktor (harganya Rp 16-18 juta/unit) kepada petani di berbagai daerah.
Edy juga tercatat sebagai pemilik i-Capital International (ICI) –hedge fund berbasis di Singapura. Perusahaan ini dibesut Edy dengan modal dari koleganya orang asing senilai Rp 2 miliar. Ia bisa pergi ke Singapura berkat keuntungan dari bermain saham. Dan, di Singapura inilah Eddy bertemu partnernya itu.
Ceritanya begini. Kala itu ada seseorang yang meminta berbagi meja untuk menikmati sarapan di Orchid Hotel, tempatnya menginap. “Kami pun mengobrol, saya lalu tahu bahwa dia ingin sekali berbisnis di bidang investasi,” ujarnya. Dari obrolan tersebut, Mr. X (ia menolak menyebut namanya) mengajaknya mendirikan perusahaan investasi.
Lalu, secara intensif kedua orang ini berkomunikasi dan saling mengenal masing-masing. “Saya ajak dia mengenal saya lebih dekat. Saya junjung kejujuran, sampai ia berkunjung ke kos-kosan saya. Tapi, waktu itu saya sudah ngontrak di tempat yang bagus dengan harga Rp 1,4 juta per bulan,” ayah dua anak ini mengenang. Akhirnya, mitranya itu menyerahkan sepenuhnya i-Capital International itu kepada Edy. “Saya sama sekali tidak setor modal, hanya kepercayaan dan berkah dari Allah yang membawa saya seperti sekarang ini,” ia menegaskan.
Edy merasa modalnya hanyalah kejujuran, kemampuannya berkomunikasi dan pengetahuan yang luas yang membuat orang tersebut mempercayakan uang investasinya padanya. “Meski tidak setor modal, saya diberi saham kekayaan intelektual di perusahaan hedge fund itu,” kata lulusan Magister Manajemen dari Prasetiya Mulya. Edy menyebutkan, i-Capital merupakan penyumbang 90% keuntungan usahanya. Perusahaan hedging fund itu 98% investasinya mayoritas di pasar luar negeri. “Saya baru masuk pasar Indonesia 2 tahun lalu,” katanya. Ia menambahkan, minimal investasi di i-Capital setara dengan Rp 2 miliar.
Kini, ICI sudah mengelola dana investor senilai Rp 12 triliun. Nyaris 98% investasi ICI di luar negeri dan baru dua tahun terakhir masuk ke pasar Indonesia. “Tapi, kalau bermain saham pribadi, saya tidak pernah melalui ICI,” ujar Edy yang menyadari hal itu dilakukan agar tidak terjadi konflik kepentingan.
Selain bermain di pasar modal, Edy pun mengelola bisnis di sektor riil. Melalui PT Indonesia Heavy Equipment (IHE) yang dibangun tahun 2008, ia menginjeksikan modal besar yang ia rahasiakan nilainya. Perusahaan ini menyewakan crane yang mampu mengangkat beban 25-600 ton. Pertimbangannya masuk IHE, semua pembangunan infrastruktur pasti membutuhkan crane, sehingga prospeknya cerah. Saat ini kliennya antara lain Freeport, Newmont dan BP Migas.
Ia juga mendirikan PT Ejra Energy (EE) pada 2008. Perusahaan ini bergerak dalam pembuatan tabung gas 3 kg. Kini EE mendapat order dari Wika dan pemenang tender Pertamina. Adapun pabriknya ada dua: di Cikupa, Tangerang, dan di Kawasan Industri Jababeka dengan produksi rata-rata 3-4,5 juta tabung gas tiap bulan.
Kemudian, bekerja sama dengan Grup Summa, Dahana dan Grup Yara dari Swedia, ia melakukan investasi di pabrik amoniak nitrat di Bontang. “Pabrik ini terbesar se-Indonesia dengan kapasitas produksi 350 ribu metrik ton/tahun,” ia mengklaim. Kepemilikan Edy di perusahaan ini sebesar 35% dari total investasi US$ 500 juta. Targetnya, tahun 2011 perusahaan ini sudah jalan. Ia berinvestasi pula di usaha penyewaan rig atau pengeboran minyak bumi. Saat ini ia memiliki empat unit rig dengan kekuatan 450 ribuan pk. Salah satunya disewakan ke Exxon Mobile.
Guna melengkapi investasi rig-nya, Edy pun merambah ke penyewaan rumah terapung (lessee boat) bersama beberapa temannya. Ia menjadi pemilik mayoritas di bisnis ini. Rumah terapung itu diperlukan perusahaan yang akan melakukan pengeboran lepas pantai (offshore). Sarana tersebut digunakan untuk tempat tinggal, rumah sakit, helipad, dan sebagainya dengan harga sewa US$ 75 ribu/hari.
Masih ada beberapa investasi riil Edy lainnya. Misalnya, investasi di pabrik ban untuk alat berat yang terletak di Banten bersama sejumlah kawannya. Juga, ada investasi di usaha percetakan PT Data Print. Perusahaan ini memiliki sekitar 300 unit mesin printing yang tersebar di Bandung, Semarang dan Yogyakarta. Edy mengungkapkan, investasinya di sektor riil itu didanai dari keuntungan bermain saham, valas dan sebagainya.
Keuntungan dari investasi di sektor riil ini pun makin menggemukkan pundi-pundi Edy. EE dan IHE, misalnya, meski baru dirintis, telah menyokong laba lebih dari Rp 800 miliar. Yang menarik, dalam menjalankan bisnis, ia tak hanya menggunakan ilmu bisnis, tetapi juga mengandalkan feeling. Orang-orang di sekitar Edy, seperti para direktur utama di perusahaannya, memang heran dan tidak percaya pada apa yang ia lakukan. Nyatanya, langkah-langkah bisnisnya bisa menghasilkan untung. Dalam memilih saham pun ia cenderung demikian, meski sebelumnya juga melakukan riset melalui Internet dan melihat internal perusahaan.
Di mata perencana keuangan, strategi dan return investasi, Edy nyaris sempurna. “Terus terang saya bingung apa yang mau disarankan ke Edy. Karena saya lihat dia sudah jago kok. Apalagi, dia masuk dalam player yang sedang untung. Dia masuk ke saham yang tepat, masuk ke saham Bumi pun di harga yang tepat. Jelas saja untung gede kalau dia main saham Bumi masuk di harga murah, lalu melepas kala harganya naik. Jika kemudian dia masuk sektor riil, buat saya tidak ada bedanya. Dia investor kakap dan saya yakin dia lebih banyak pengalaman daripada saya,” ujar Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari Pavillion Wealth Management.***
Diposting oleh di 10.46 1 komentar
Label: Persija
Persija Siap Jadi Contoh Industri Bisnis
Kepemimpinannya bersama enam pimpinan teras, yakni Sonny Sumarsono sebagai Direktur Bisnis, Zulfikar Utama (Direktur Teknik), Bambang Sutjipto (Direktur Umum), Benny Erwin (Direktur Finansial dan Keuangan), serta Jajat Sudrajat dan Gurning (Direktur Komersial).
"Saya tertarik mengelola Persija karena tim ini memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan," kata Eddy kepada wartawan di Jakarta, Jumat (24/7) sore.
Ia mengatakan, dirinya memiliki visi dan misi untuk tahun pertama tidak mengejar profit. Namun, untuk tahun kedua, jika pengelolaan klub dibingkai secara profesional, ia merasa sangat optimistis, Persija akan mampu menjadi percontohan sebuah industri olahraga dengan berbagai konsep yang telah disusun.
"Kami ingin menjadi pelopor olahraga sebagai industri bisnis. Kami ingin dijadikan contoh bagi klub-klub lain dengan tidak lagi menggantungkan harapan kepada bantuan dana APBD. Kami akan kelola Persija dengan dana mandiri," kata pengusaha Ibu Kota yang selama ini berkecimpung di dunia bisnis alat-alat berat ini.
Eddy siap investasi ke "Macan Kemayoran" untuk lima musim kompetisi dengan menggelontorkan uang sebesar Rp 30 miliar per musim.
Untuk musim depan, Persija akan membidik pelatih baru asal Portugal, Alberto Rafael Soerio Gomes (54).
Adapun duet Bambang Pamungkas dan Aliyudin sudah tak bisa dipertahankan. Persija sendiri mengincar pemain lokal, yaitu Yongki (Persik), Rachmat Rivai (Persitara), Fandi Mochtar dan Arif Suyono (Pelita Jaya), Octavianus (SFC), Syamsul Chaerudin (PSM), serta Eka Ramdani dan Nova Arianto (Persib).
Adapun pemain asing yakni Christian Gonzales, Zada, Greg Nwokolo, Patricio Morales, Claudio Pronetto, Beto atau Paiton Tiabma, di antara yang diincar, termasuk kiper nasional Singapura, Lionel Lewis, sebagai penjaga gawang utama. (ANT)
Sumber: kompas.com Read more.....
Diposting oleh di 10.29 1 komentar
Label: Persija











